Loading...

Pages

Rabu, 15 Juni 2011

CINTA

Cinta membutuhkan proses. Cinta biasanya tumbuh dan berkembang yang merupakan emosi kompleks. Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu. Jadi memang tidak mungkin anda mencintai seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya dengan begitu saja. Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya saat dua individu telah berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih orang lain sebagai titik fokus baru. Yang mungkin terjadi dalam fenomena 'cinta pada pandangan pertama' adalah pasangan terserang perasaan saling tertarik yang sangat kuat bahkan sampai tergila-gila. kemudian perasaan kompulsif itu berkembang jadi cinta tanpa menempuh masa jeda. Dalam kasus 'cinta pada pandangan pertama', banyak orang tidak benar-benar mencintai pasangannya melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri. Sebaliknya dengan orang yang benar-benar mencinta karena mereka mencintai pasangan sebagai persolinatas secara utuh.

Cinta tidak menguasai dan mengalah tapi saling berbagi. Jika anda berkeinginan untuk mengontrol pasangan anda maka itu namanya bukan cinta. Jika anda bersedia mengalah hanya untuk kepuasan kekasih, itu pun bukan cinta. Orang yang mencinta tidak menganggap kekasihnya sebagai atasan atau bawahan tapi sebagai pasangan untuk saling berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri. Bila anda berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana) atau selalu mengalah (tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan dinomorduakan) berarti anda belum siap memberi dan menerima cinta.

Cinta itu konstruktif. Individu yang mencinta, berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi konstruktif dan merencanakan masa depan. Sebaliknya jatuh cinta yang impulsif bukannya berpikir dan bertindak konstruktif tetapi dia kehilangan ambisi, nafsu makan dan minat terhadap masalah sehari-hari. Yang dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi dan impiannya pun tidak mungkin tercapai. Bahkan
impian itu bisa menjadi subsitusi kenyataan.

Cinta tidak melenyapkan semua masalah. Bagi penganut paham romantik mempercayai bahwa cinta bisa mengatasi masalah dan cinta bisa menjadi obat dari segala penyakit (panacea). Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar dapatkan solusinya. Jika anda tengah di mabuk cinta maka akan cenderung membutakan mata anda saat mendapat masalah sehingga mengesampingkan masalah tersebut.

Cinta cenderung konstan. Cinta memang bergerak konstan dan anda patut curiga bila grafik perasaan anda pada pasangan turun naik secara tajam. Jika saat jauh anda merasa pasangan anda lebih hebar daripada saat bersama, itu pertanda anda mengidealisasikannya bukan secara realistis. Sehingga saat anda kembali bersama maka anda memandang hebat saat anda berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal sama saat dia jauh. Hal itu menandakan anda terkecoh dengan daya tarik fisiknya saja. Karena cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan maka anda akan selalu menyukainya dalam kadar yang sama.

Cinta tidak bertumpu pada daya tarik fisik. Dalam hubungan cinta memang daya tarik fisik itu penting. Tapi akan bahaya bila anda menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak faktor lainnya. Saat jatuh cinta, anda menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Karena kontak fisik hanya akan terasa menyenangkan bila anda dan pasangan saling menyukai personalitas masing-masing. Bila anda menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi yang menyenangkan tanpa makna apa-apa maka itu bukan cinta tapi nafsu belaka. Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan semakin dalam. Sedang nafsu menuntut hanya pemuasan fisik dari awal pertemuan.

Cinta tidak buta tapi menerima. Orang yang mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta maka dia harus berusaha menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik tetapi harus didasari oleh perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik kasar, penolakan, kegeraman atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan anda sangat buruk maka menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Setelah keinginannya terpuaskan maka anda akan ditinggalkan, hal ini hanya karena anda memiliki secuil keburukan yang sebenarnya bisa diperbaiki.

Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan. Seseorang yang benar-benar mencinta akan memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan dan memajukan hubungan. Seseorang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Tetapi usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan.
Cinta berani melakukan hal menyakitkan. Jika seseorang benar-benar mencinta, bukan hanya berusaha menyenangkan kekasihnya tetapi juga memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Katakan 'tidak' bila memang dia ingin melakukan sesuatu yang kurang baik untuk dirinya. Jadi seharusnya setiap pasangan harus saling berbagi dan mengingatkan tentang sesuatu hal yang baik ataupun buruk. Itulah arti cinta yang sesungguhnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar